Belajar Seni di Galeri Nasional Indonesia

Inget seni, inget mata kuliah yang pernah gue ambil dulu. Sejarah desain. Mata kuliah paket A ini sangat digandrungi oleh kawula muda kampus yang ingin mendongkrak nilainya. Selain itu, mata kuliah ini juga dibuka saat masa-masa semester pendek. Sekalian ngeceng dedek-dedek di kepanitiaan alangkah baiknya juga menimba ilmu yang ternyata lumayan jauh dari bidang sebenernya.

Gue pun sebagai anak teknik, yang dalam darah gue mengalir super duper deras darah seni pun merasa tertantang. Mulai dari era pra-modern hingga post-modernism kami lahap. Dari mulai era Raden Saleh sampe Basuki Abdullah kami hayati. Dan akhirnya, voila ! Dapet A! Hahahaha.

Di bilangan Jakarta, ada suatu tempat GRATIS, iya GRATIS, yang memiliki koleksi dan sejarah seni di Indonesia.  Namanya Galeri Nasional Indonesia. Terletak di seberang Stasiun Gambir. Terdapat dua jenis pameran, yaitu pameran tetap dan pameran kontemporer. Pameran tetap berisikan sejarah seni dari mulai era Raden Saleh hingga era kekinian alias Pra-GSRB atau Pra – Gerakan Seni Rupa Baru sedangkan pameran kontemporer biasanya berisikan karya-karya seniman tertentu dalam jangka waktu tertentu juga.

Yang gue kunjungi pada saat itu yaitu pameran tetap. Jadi, pamerannya tuh ada di lantai dua, terbagi menjadi dua bagian, yakni pembagian per periode. Periode pertama yakni periode seni rupa modern Indonesia dan yang yang selanjutnya adalah  periode Pra-GSRB dan GSRB.

Periode Seni Rupa Modern Indonesia

Agar asyik dan mengedukasi, alangkah baiknya saya bagi per tahun saja *berasa dosen seni

Masa Perintisan (1820-1880)

Dalam periode ini hiduplah seorang seniman yang super duper awesome. Nama beliau adalah Raden Saleh Sjarif Bustaman atau lebih dikenal dengan nama Raden Saleh. Beliau adalah panutan gue banget dalam memelajari seni.

Raden Saleh ini lahir di Semarang pada 1807. Selanjutnya dia belajar sama masternya, yang bernama G. A. G Baron van der Capellen. Ternyata eh ternyata, si Raden Saleh ini punya bakat yang terpendam gitu. Diberangkatkanlah beliau ke Belanda untuk belajar selama 10 tahun dan menetap disana.

Raden Saleh menjadi sosok yang sangat vital pada masa ini. Di Indonesia bahkan dunia internasional. Hal tersebut dikarenakan kelihaiannya dalam menguasai teknik seni lukis modern yang sebelumnya belum pernah ada di tanah Jawa.

Dari segi fashion, beliau fashinable abis. Persis kaya gue. Melakukan perkawinan silang antara fashion Mataram dan fashion ala kolonial Belanda. Dari segi teknik, ga beda jauh sama gue juga. Teknik-teknik seni lukis yang dimiliki beliau digunakan untuk mengkritisi pemerintahan saat itu. Salah satu lukisan beliau yang terkenal adalah Penangkapan Pangeran Diponegoro (1837).

DSC_0021_9
Penangkapan Pangeran Diponegoro (1837)
DSC_0019_9
Potret Adolphe Jean Philippe Hubert Desire (1867)
DSC_0023_9
Raden Saleh

Moei Indie (1820an)

Pada tahun 1920, berdirilah Bataviaasche Kunstkring (Lingkar/Kelompok Seni Batavia) yang menyelenggarakan pameran pelukis Eropa yang bertemakan panorama alam.

Pelukis-pelukis Eropa ini kemudian melakukan infiltrasi memengaruhi pelukis pribumi untuk melukis pemandangan yang indah. Pelukis-pelukis pribumi tersebut akhirnya dikenal sebagai pelukis Mooi Indie atau Hindia Jelita.

Pelukis Moei Indie diantaranya Basoeki Abdullah, Abdullah Suriosubroto dan Surjo Subanto.

DSC_0015_9
Merapi, yang Tak Kunjung Padam karya Basuki Abdullah

Persatuan Ahli Gambar Indonesia (PERSAGI)  (1938-1942)

Pada kurun periode ini, berdirilah organisasi seniman pribumi Indonesia pertama yakni Persatuan Ahli Gambar Indonesia (PERSAGI). Tokoh-tokohnya antara lain Agus Djaja, Abdul Salam, Otto Djaya, dan Emiria Soenasa.

Karya-karya PERSAGI pada kurun waktu tersebut sebagian besar mencerminkan semangat Kebangsaan.

Era Pendudukan Jepang dan Era Sanggar (1942-1949)

Pada zaman ini, dibawah naungan Jepang, didirikanlah Pusat Kebudayaan atau Keimin Bunka Shidoso, yang didirikan pada 1 April 1943 dan POETERA (Poesat Tenaga Rakjat) .

Kelahiran Era Sanggar juga terjadi pada kurun ini, antara lain: Seniman Indonesia Muda (SIM), Pelukis Rakjat, Himpunan Budaya Surakarta (HBS), Sanggar Bambu dan Sanggar Bumi Tarung di Yogyakarta.

Seniman-seniman yang lahir pada zaman ini antara lain : Affandi, S. Sudjojono, Agus Djaja, Kartono Yudhokusumo dan Henk Ngantung.

DSC_0033_6
Era Pendudukan Jepang dan Era Sanggar
DSC_0012_11-001
Potret Seseorang

Akademi Seni Rupa (1947-1970-an)

Kurun waktu ini banyak berdiri akademi Seni Rupa diantaranya Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) di Yogyakarta; tahun 1947 di Bandung dengan nama Universitaire Leergang voor de Opleiding van Tekenleraren. yang kemudian menjadi Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB ; di Jakarta pun berdiri pada tahun 1970 dengan nama Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ).

 

DSC_0006_20
Interpretasi Dengan Skill Gue  : Hati Dinding yang Telah Mengerak

 

Periode Pra-GSRB (1970 – 1975), GSRB (1976 – 1977), dan Kontemporer (1980 -1998)

Pada periode ini, diawali dengan diadakannya pameran lukisan di berbagai tempat, diantaranya di Bandung, Jakarta dan Yogyakarta.  Di penghujung tahun 1975, diadakanlah pameran dan diskusi ‘Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia’ di Taman Ismail Jakarta. Pertemuan itu menjadi cikal bakal adanya New Art Movement. Seni aja ada movement-nya yak. Kamu kapan ? Hayoooo.

DSC_0051_5
Kotak X (1979) – Jim Supangkat
DSC_0053_5
Para Perupa Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia

Pada periode New Art Movement inilah para seniman mematangkan konsep yang mereka yang telah mereka canangkan sebelumnya mengenai Seni Rupa Baru. Berbagai pameran dan diskusi pun tetap dilakukan dengan lebih gencar.

DSC_0054_5
The Flag of Red and White (1975) – Bonyong Munny Ardhie

Pada tahun 1980, dimulailah Seni Rupa Kontemporer. Para perupa kontemporer menjadi pelopor aktivitas pameran-pameran di forum internasional dengan cara mereka masing-masing. Merka juga para pelopor yang mengembangkan ekstetik dan artistik yang melampaui batas-batas konvensi seni modern, seperti yang dicita-citakan oleh eksponen GSRB maupun pengaruh wacana posmodernisme. *gilaaakkk posmodernisme ada di sejarah desain *sori kalo ga ngerti *yang ngerti cuma anak seni cem gue hahahaha .

Karya-karya mereka barpacu pada tema yang terdapat pada masyarakat sekitar, mulai dari persoalan politik, ekonomi, sosial, budaya, baik bertendensi sebagai komentar kritis terhadap persoalan tersebut maupun sebagai sublimasi dan bersifat personal.

DSC_0065_3
Salah Satu Seni Kontemporer
DSC_0064_3
Gula dan Semut (1999) – Iriantine Karnaya
DSC_0068_3
Bayang-bayang Masa Lalu
DSC_0067_3
Patung yang Ada Suaranya
DSC_0076_3
Detail dari Seni Rupa. Kalo Diperhatiin, ini Seniman Kesabarannya Lebih dari Anak Tiri di Sinetron-sinetron

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s